Rahasia Sholat Tahajud

Sholat tahajud

Sholat tahajud

Ada sebuah rahasia penting yang ingin saya sampaikan dalam tulisan ini. Sebuah rahasia yang maha dahsyat bila anda rutin melaksanakan sholat sunah Tahajud. Sholat yang dilaksanakan sepertiga malam dengan penuh keheningan, karena di saat itu banyak orang yang tertidur lelap.

Pada saat itulah sebaiknya anda bangun dari tidur. Mengambil air wudhu lalu melaksanakan sholat sunah Tahajud. Boleh anda laksanakan 2 rakaat ditutup dengan witir 1 rakaat. Boleh juga 8 rakaat dan ditutup dengan witir 3 rakaat. Bila anda sanggup, boleh juga sampai 23 rakaat.

Namun, yang paling penting adalah konsistensi dalam pelaksanaannya. Lebih baik melaksanakan sholat tahajud dengan rakaat yang sedikit tapi rutin tiap malam, daripada banyak rakaatnya tapi tidak rutin. Anda perlu konsisten dan memiliki komitmen yang tinggi dalam diri.

Hal terpenting dari sholat tahajud adalah anda merenungi hidup ini, melakukan instropeksi di hari kemarin dan memohon ampunan kepada Allah dengan seraya beristighfar dengan penuh ke-khusyuk-an. Memohon diberikan kemudahan dalam melaksanakan aktivitas esok hari, dan yang lebih penting berdoa kepada Allah agar di lapangkan rezeki.

Saya menjadi teringat ketika hendak mau menikah di Bandung pada tahun 1998. Pada malam sebelum nikah, saya sempat bingung karena uang untuk transport penghulu dan juga tempat penginapan belum ada di kantong. Saya berdiskusi dengan almarhum ayah untuk mencarikan solusinya. Lalu saya katakan kesulitan saya itu kepada beliau. Ketika kesulitan itu saya sampaikan, ayah saya cuma tersenyum dan menyuruh saya untuk melaksanakan sholat tahajud.

Malamnya, saya sholat tahajud dengan penuh kekhusyukan agar besok dimudahkan dari segala urusan. Saya berserah diri kepada Allah seraya berdoa agar diberikan rezeki karena akan menikah besok lusa. Saya pun berdoa sambil menangis sesunggukan memohon ampun kepada-Nya. Segala ikhtiar sudah ditunaikan, sekarang saatnya saya berdoa kepada Yang Maha Kuasa. Semoga Allah mengabulkan segala permintaan saya yang akan menikah esok lusa.

Besok paginya, setelah sholat subuh berjamaah, ada ketukan pagar dari luar rumah. Begitu saya tengok keluar, ada pak Yono, salah satu pengurus masjid Al Iman datang ke rumah kami.

Setelah pintu pagar dibuka, lalu saya persilahkan beliau masuk ke ruang tamu. Setelah beliau ada di ruang tamu, maka mengobrollah kami sebentar, lalu tiba-tiba saja diberinya saya amplop yang berisi uang. Jumlahnya pas banget dengan yang saya butuhkan. Subhanallah, Alhamdulillah, Allahu Akbar, saya mengucap syukur kepada Allah. Ternyata di pagi hari itu, Allah memberikan rezekinya lewat pak Yono dan kawan-kawan pengurus masjid yang tidak bisa ikut hadir dalam pernikahan saya di kota Bandung.

Rahasia sholat tahajud mungkin sudah pernah anda dapatkan. Dia datang berbeda-beda caranya. Ada yang cepat, dan ada yang lambat. Tergantung dari ridho Allah, dan cara kita berdoa. Terkadang kita sering terlupa bahwa doa adalah permohonan dan permintaan hambaNya yang memasrahkan dirinya agar diampuni dosanya, diberikan kemudahan hidup di dunia dan akhirat kelak. Merendahkan diri dihadapan sang penguasa langit dan bumi.

Semoga Allah mengabulkan doa-doa hambaNya yang berserah diri pada saat-saat keheningan sepertiga malam dengan melaksanakan sholat sunah tahajud. Oleh karenanya, jangan lupa pula untuk selalu sadar diri bahwa akan ada hidup sesudah mati. Di dunia ini kita hanyalah seorang pengembara yang singgah sebentar, lalu pergi kembali.

Sudahkah anda rutin melaksanakan sholat tahajud dan menemukan rahasia di dalamnya?

Salam Blogger Persahabatan

Shalat malam, bila shalat tersebut dikerjakan sesudah tidur, dinamakan shalat Tahajud, artinya terbangun malam. Jadi, kalau mau mengerjakansholat Tahajud, harus tidur dulu. Shalat malam ( Tahajud ) adalah kebiasaan orang-orang shaleh yang hatinya selalu berdampingan denganAllah SWT.

Berfirman Allah SWT di dalam Al-Qur’an :
“ Pada malam hari, hendaklah engkau shalat Tahajud sebagai tambahan bagi engkau. Mudah-mudahan Tuhan mengangkat engkau ketempat yang terpuji.”
(QS : Al-Isro’ : 79)

Shalat Tahajud adalah shalat yang diwajibkan kepada Nabi SAW sebelum turun perintah shalat wajib lima waktu. Sekarang shalat Tahajud merupakan shalat yang sangat dianjurkan untuk dilaksanakan .

Sahabat Abdullah bin
Salam mengatakan, bahwa Nabi SAW telah bersabda :
“ Hai sekalian manusia, sebarluaskanlah salam dan berikanlah makanan serta sholat malamlah diwaktu manusia sedang tidur, supaya kamu masuk Sorga dengan selamat.”(HR Tirmidzi)

Bersabda Nabi Muhammad SAW :
“Seutama-utama shalat sesudah shalat fardhu ialah shalat sunnat di waktu malam” ( HR. Muslim )

Waktu Untuk Melaksanakan Sholat Tahajud :
Kapan afdhalnya shalat Tahajud dilaksanakan ? Sebetulnya waktu untuk melaksanakan shalat Tahajud ( Shalatul Lail ) ditetapkan sejak waktu Isya’ hingga waktu subuh ( sepanjang malam ). Meskipun demikian, ada waktu-waktu yang utama, yaitu :
1. Sangat utama : 1/3 malam pertama ( Ba’da Isya – 22.00 )
2. Lebih utama : 1/3 malam kedua ( pukul 22.00 – 01.00 )
3. Paling utama : 1/3 malam terakhir ( pukul 01.00 – Subuh )

Menurut keterangan yang sahih, saat ijabah (dikabulkannya do’a) itu adalah 1/3 malam yang terakhir. Abu Muslim bertanya kepada sahabat Abu Dzar : “ Diwaktu manakah yang lebih utama kita mengerjakan sholat malam?”
Sahabat Abu Dzar menjawab : “Aku telah bertanya kepada Rosulullah SAW sebagaimana engkau tanyakan kepadaku ini.” Rosulullah SAW bersabda :
“Perut malam yang masih tinggal adalah 1/3 yang akhir. Sayangnya sedikit sekali orang yang melaksanakannya.” (HR Ahmad)

Bersabda Rosulullah SAW :
“ Sesungguhnya pada waktu malam ada satu saat ( waktu. ). Seandainya seorang Muslim meminta suatu kebaikan didunia maupun diakhirat kepada Allah SWT, niscaya Allah SWT akan memberinya. Dan itu berlaku setiap malam.” ( HR Muslim )

Nabi SAW bersabda lagi :
“Pada tiap malam Tuhan kami Tabaraka wa Ta’ala turun ( ke langit dunia ) ketika tinggal sepertiga malam yang akhir. Ia berfirman : “ Barang siapa yang menyeru-Ku, akan Aku perkenankan seruannya. Barang siapa yang meminta kepada-Ku, Aku perkenankan permintaanya. Dan barang siapa meminta ampunan kepada-Ku, Aku ampuni dia.” ( HR Bukhari dan Muslim )

Jumlah Raka’at Shalat Tahajud :
Shalat malam (Tahajud) tidak dibatasi jumlahnya, tetapi paling sedikit 2 ( dua ) raka’at. Yang paling utama kita kekalkan adalah 11 ( sebelas ) raka’at atau 13 ( tiga belas ) raka’at, dengan 2 ( dua ) raka’at shalat Iftitah. Cara (Kaifiat) mengerjakannya yang baik adalah setiap 2 ( dua ) rakaat diakhiri satu salam. Sebagaimana diterangkan oleh Rosulullah SAW :“ Shalat malam itu, dua-dua.” ( HR Ahmad, Bukhari dan Muslim )

Adapun Kaifiat yang diterangkan oleh Sahabat Said Ibnu Yazid, bahwasannya Nabi Muhammad SAW shalat malam 13 raka’at, sebagai berikut :
1) 2 raka’at shalat Iftitah.
2) 8 raka’at shalat Tahajud.
3) 3 raka’at shalat witir.

Adapun surat yang dibaca dalam shalat Tahajud pada raka’at pertama setelah surat Al-Fatihah ialah Surat Al-Baqarah ayat 284-286. Sedangkan pada raka’at kedua setelah membaca surat Al-Fatihah ialah surat Ali Imron 18-19 dan 26-27. Kalau surat-surat tersebut belum hafal, maka boleh membaca surat yang lain yang sudah dihafal.Rasulullah SAW bersabda :
“Allah menyayangi seorang laki-laki yang bangun untuk shalat malam, lalu membangunkan istrinya. Jika tidak mau bangun, maka percikkan kepada wajahnya dengan air. Demikian pula Allah menyayangi perempuan yang bangun untuk shalat malam, juga membangunkan suaminya. Jika menolak, mukanya
disiram air.” (HR Abu Daud)

Bersabda Nabi SAW :
“Jika suami membangunkan istrinya untuk shalat malam hingga
keduanya shalat dua raka’at, maka tercatat keduanya dalam golongan (perempuan/laki-laki) yang selalu berdzikir.”(HR Abu Daud)

Keutamaan Shalat Tahajud :
Tentang keutamaan shalat Tahajud tersebut, Rasulullah SAW suatu hari bersabda : “Barang siapa mengerjakan shalat Tahajud dengan
sebaik-baiknya, dan dengan tata tertib yang rapi, maka Allah SWT akan memberikan 9 macam kemuliaan : 5 macam di dunia dan 4 macam di akhirat.”
Adapun lima keutamaan didunia itu, ialah :
1. Akan dipelihara oleh Allah SWT dari segala macam bencana.
2. Tanda ketaatannya akan tampak kelihatan dimukanya.
3. Akan dicintai para hamba Allah yang shaleh dan dicintai oleh
semua manusia.
4. Lidahnya akan mampu mengucapkan kata-kata yang mengandung hikmah.
5. Akan dijadikan orang bijaksana, yakni diberi pemahaman dalam agama.

Sedangkan yang empat keutamaan diakhirat, yaitu :
1. Wajahnya berseri ketika bangkit dari kubur di Hari Pembalasan nanti.
2. Akan mendapat keringanan ketika di hisab.
3. Ketika menyebrangi jembatan Shirotol Mustaqim, bisa melakukannya dengan sangat cepat, seperti halilintar yang menyambar.
4. Catatan amalnya diberikan ditangan kanan.
(Bahan (materi) di ambil dari buku “RAHASIA SHALAT SUNNAT”

Shalat Tahajud Setelah Witir Tarawih

Kamis, 27/08/2009 12:26 WIB | email | print | share

assalaamualikum ww,

pak ustadz saya mau bertanya mengenai shalat tahajjud di bulan ramadhan, setelah kita melaksanakan shalat taraweh dan witir apakah  kita masih dibolehkan untuk bertahajjud lagi tengah malamnya?

karna saya pernah membaca jika sudah melaksanan shalat witir maka tidak ada lagi shalat  sunnah sesudahnya.

sebelumnya saya ucapkan banyak terimakasih.

wassalam,

irwan

Irwan

Jawaban

Waalaikumussalam Wr Wb

Saudara Irwan yang dimuliakan Allah swt

Tahajjud juga disebut dengan qiyamullail, sebagaimana firman Allah swt :

وَمِنَ اللَّيْلِ فَتَهَجَّدْ بِهِ نَافِلَةً لَّكَ عَسَى أَن يَبْعَثَكَ رَبُّكَ مَقَامًا مَّحْمُودًا
Artinya : ”Dan pada sebahagian malam hari bersembahyang tahajudlah kamu sebagai suatu ibadah tambahan bagimu; Mudah-mudahan Tuhan-mu mengangkat kamu ke tempat yang Terpuji.” (QS. Al Israa ” 79)

Juga firman Allah swt :

يَا أَيُّهَا الْمُزَّمِّلُ ﴿١﴾
قُمِ اللَّيْلَ إِلَّا قَلِيلًا ﴿٢﴾
نِصْفَهُ أَوِ انقُصْ مِنْهُ قَلِيلًا ﴿٣﴾

Artinya : ”Hai orang yang berselimut (Muhammad). Bangunlah (untuk sembahyang) di malam hari, kecuali sedikit (daripadanya) (yaitu) seperduanya atau kurangilah dari seperdua itu sedikit.” (QS Al Muzammil : 1 -3)

Namun demikian ada juga yang mengatakan bahwa tahajjud dikerjakan pada pertengahan atau akhir malam dan dilakukan setelah orang itu bangun dari tidur. Sedangkan qiyamullail bisa dilakukan di awal, pertengahan atau akhir malam dan tidak mesti setelah bangun dari tidur.

Adapun shalat tarawih maka para ulama juga menyebutnya dengan qiyamullail di bulan ramadhan yang dilakukan setelah menunaikan shalat isya dengan memanjangkan berdirinya. Ia bisa juga disebut dengan tahajjud. Dinamakan tarawih dikarenakan terdapat istirahat setelah dua kali salam. Shalat tarawih ini merupakan sunnah muakkadah berdasarkan hadits yang diriwayatkan oleh Bukhori dan Muslim dari Abu Hurairoh bahwa Rasulullah saw bersabda,”Barangsiapa yang melakukan qiyamullail (tarawih) dengan penuh keimanan dan keikhlasan maka dihapuskan dosa-dosanya yang lalu.”

Tentang witir sendiri hukumnya adalah sama baik pada bulan ramadhan maupun diluar bulan ramadhan, yaitu tidak ada dua witir dalam satu malam sebagaimana hadits yang diriwayatkan Imam yang lima kecuali Ibnu Majah bahwa Rasulullah saw bersabda,”Tidak ada dua witir dalam satu malam.” juga hadits yang diriwayatkan oleh jama’ah kecuali Ibnu Majah bahwa Rasulullah saw bersabda,”Jadikanlah akhir shalat kalian pada malam hari adalah witir.”

Maka bagi siapa yang telah melakukan shalat tarawih dan witir bersama imam lalu dirinya ingin melakukan kembali shalat malamnya maka hendaklah dia melakukan shalat qiyamullailnya saja (genap) tanpa melakukan witir lagi berdasarkan hadits-hadits diatas, demikian menurut para ulama Hanafi, Maliki, Hambali dan pendapat yang masyhur dari para ulama Syafi’i. Dalil lainnya yang dipakai mereka adalah apa yang diriwayatkan oleh Tirmidzi dari Ummu Salamah bahwa Nabi saw melakukan shalat dua rakaat setelah witir.” Imam Tirmidzi mengatakan bahwa hadits ini juga diriwayatkan dari Abu Umamah, Aisyah dan sahabat lainnya dari Rasulullah saw.

Ada juga cara kedua yang merupakan pendapat para ulama Syafi’i—kitab ”al Mausu’ah al Fiqhiyah (2/9827)”—yaitu hendaklah orang itu mengawalinya dengan melakukan shalat sunnahnya satu rakaat untuk menggenapkan witir yang telah dilakukan sebelumnya kemudian melakukan shalatnya yang genap sekehendaknya kamudian ditutup dengan witir. Hal ini diriwayatkan dari Utsman, Ali, Usamah, Sa’ad, Ibnu Umar, Ibnu Mas’ud dan Ibnu Abbas sebagaimana ditegaskan oleh Imam Nawawi dan Ibnu Qudamah. Dan dalil yang bisa jadi digunakan mereka adalah hadits,”Jadikanlah akhir shalat kalian pada malam hari adalah witir.”

Wallahu A’lam

Keistimewaan shalat tahajjud

Shalat tahajjud merupakan kehormatan bagi seorang muslim, sebab mendatangkan kesehatan, menghapus dosa-dosa yang dilakukan siang hari, menghindarkannya dari kesepian dialam kubur, mengharumkan bau tubuh, menjaminkan baginya kebutuhan hidup, dan juga menjadi hiasan surga. [2] Selain itu, shalat tahajjud juga dipercaya memiliki keistimewaan lain, dimana bagi orang yang mendirikan shalat tahajjud diberikan manfaat, yaitu keselamatan dan kesenangan di dunia dan akhirat, antara lain wajahnya akan memancarkan cahaya keimanan, akan dipelihara oleh Allah dirinya dari segala macam marabahaya, setiap perkataannya mengandung arti dan dituruti oleh orang lain, akan mendapatkan perhatian dan kecintaan dari orang-orang yang mengenalinya, dibangkitkan dari kuburnya dengan wajah yang bercahaya, diberi kitab amalnya ditangan kanannya, dimudahkan hisabnya, berjalan diatas shirat bagaikan kilat.[1]

Ketika menerangkan shalat tahajjud, Nabi Muhammad SAW bersabda, Shalat tahajjud adalah sarana (meraih) keridhaan Tuhan, kecintaan para malaikat, sunah para nabi, cahaya pengetahuan, pokok keimanan, istirahat untuk tubuh, kebencian para setan, senjata untuk (melawan) musuh, (sarana) terkabulnya doa, (sarana) diterimanya amal, keberkatan bagi rezeki, pemberi syafaat diantara yang melaksanakannya dan diantara malaikat maut, cahaya di kuburan (pelaksananya), ranjang dari bawah sisi (pelaksananya), menjadi jawaban bagi Munkar dan Nakir, teman dan penjenguk di kubur (pelaksananya) hingga hari kiamat, ketika di hari kiamat shalat tahajud itu akan menjadi pelindung diatas (pelaksananya), mahkota di kepalanya, busana bagi tubuhnya, cahaya yang menyebar didepannya, penghalang diantaranya dan neraka, hujah (dalil) bagi mukmin dihadapan Allah SWT, pemberat bagi timbangan, izin untuk melewati Shirath al-Mustaqim, kunci surga…[2] [3]

[sunting] Ayat al-Qur’an dan hadits terkait

Ayat Al Qur’an terkait shalat tahajjud:

  • Al Isra’ ayat 79 yang artinya :“Dan pada sebagian malam hari bershalat tahajudlah kamu sebagai suatu ibadah tambahan bagimu. Mudah-mudahan Tuhanmu mengangkatmu ketempat yang terpuji” (Q.S. 17:79 ).

Hadits terkait shalat tahajjud:

  • “Perintah Allah turun ke langit dunia di waktu tinggal sepertiga akhir dari waktu malam, lalu berseru:Adakah orang-orang yang memohon (berdo’a), pasti akan Kukabulkan, adakah orang-orang yang meminta, pasti akan Kuberi dan adakah yang mengharap/memohon ampunan, pasti akan Kuampuni baginya. Sampai tiba waktu Shubuh. (Al Hadits).

Mandi Jumat dan Menyentuh Kelamin setelah Wudhu Kamis, 18/03/2010 07:22 WIB | email | print | share Ustadz Sigit Pranowo, LC yg dirahmati Allah. Assalamu’alaikum wr. wb. Pertanyaan : 1. Tentang Hukum Mandi Wajib utk Sholat Jum’at. * Apa hukumnya mandi wajib utk sholat Jum’at (tentunya bagi laki-laki) * Apabila hukumnya wajib, bgmn dengan para Pekerja / Pegawai yang karena terbatasnya waktu dan tempat, sehingga tidak dapat melaksanakan mandi wajib sebelum pergi sholat Jum’at. * Apabila telah melaksanakan mandi wajib utk sholat Jum’at, kemudian karena sesuatu hal menjadi batal dan tidak dapat melaksanakan mandi wajib lagi, bgmn hukum sholat Jum’atnya * Saya seorang Pegawai, setiap Jum’at pagi sebelum berangkat kekantor, saya selalu berniat dan melaksanakan mandi wajib untuk sholat Jum’at. Akan tetapi dalam perjalanan waktu hari Jum’at itu, mandi wajib saya pasti selalu batal (karena buang air kecil, misalnya). Bagaiman hukumnya sholat Jum’at saya selama ini. 2. Apa hukumnya menyentuh (memegang) alat kelamin (milik sendiri maupun milik anak kecil/bayi baik disengaja maupun tidak disengaja) setelah mempunyai wudhu, apakah wudhu nya batal ? Terima kasih atas jawaban pencerahan Ustadz. Wassalamu’alaikum wr. wb. Hormat saya Suharto Suharto MZ Jawaban Waalaikumussalam Wr Wb Saudara Suharto MZ yang dimuliakan Allah swt Mandi di Hari Jum’at Sayyid Sabiq ketika menyebutkan tentang mandi yang disunnahkan maka beliau menyebutkan mandi di hari jum’at. Hari jum’at adalah hari berkumpulnya (kaum muslimin) untuk melaksanakan ibadah dan shalat dan Sang Pembuat syariat memerintahkan agar mandi bahkan mengukuhkannya agar kaum muslimin ketika berkumpul dalam keadaan yang terbaik, yaitu kebersihan dan kesucian. Dari Abu Said bahwa Nabi saw bersabda,”Mandi di hari jum’at adalah wajib bagi setiap orang yang telah bermimpi..” (HR. Bukhori dan Muslim) Yang dimaksud dengan telah bermimpi adalah telah baligh sedangkan yang dimaksud dengan wajib adalah pengukuhan terhadap anjuran (sunnah) berdasarkan apa yang diriwayatkan oleh Bukhori dari Ibnu Umar bahwa Umar bin Khottob tatkala berdiri diatas mimbar pada hari jum’at lalu masuklah seorang laki-laki dari kalangan Muhajirin pertama dari para sahabat Nabi saw, yaitu Utsman. Maka Umar memanggilnya,”Hari apa ini?’ Utsman menjawab,”Sesungguhnya aku begitu sibuk sehingga aku tidak kembali ke keluargku sehingga aku mendengar suara adzan dan aku tidaklah manambah dari sekedar aku berwudhu.” Umar berkata,”Wudhu juga. Bukankah engkau telah mengetahui bahwa Rasulullah saw memerintahkan untuk mandi?’ Syafi’i mengatakan bahwa ketika Utsman tidak meninggalkan shalat untuk mandi dan Umar tidak pula memerintahkannya untuk keluar (dari masjid) untuk mandi adalah dalil bahwa kedua sahabat tersebut mengetahui bahwa mandi (di hari jum’at) adalah pilihan. Dalil lain yang menunjukkan disunnahkannya mandi juga adalah apa yang diriwayatkan oleh Muslim dari Abu Hurairoh dari Nabi saw bersabda,”Barangsiapa yang berwudhu lalu membaguskan wudhunya kemudia mendatangi shalat jum’at dan mendengarkan (khutbah) maka diampuni (dosa) baginya dari jum’at hingga jum’at serta ditambah tiga hari). Al Qurthubi didalam menetapkan argumentasi dengan hadits ini tentang disunnahkannya mandi dihari jum’at : disebutkannya wudhu (didalam hadits itu) dengan disertai adanya pahala menunjukkan bahwa hal itu sah dan bukti bahwa berwudhu saja sudah cukup. Al hafizh Ibnu Hajar didalam “at Talkhish” mengatakan bahwa sesungguhnya perkataan yang paling kuat dan berdasarkan dalil adalah tidak diwajibkannya mandi pada hari jum’at. Dan perkataan disunnahkannya itu dibangun diatas landasan bahwa mandi tidaklah menimbulkan kemudharatan . dan jika meninggalkan mandi menjadikan orang lain tidak nyaman dikarenakan bau keringat yang tidak enak atau keburukan lainnya maka mandi menjadi suatu kewajiban dan meninggalkan mandi menjadi diharamkan. Sekelompok ulama berpendapat bahwa perkataan diwajibkannya mandi di hari jum’at walaupun tidak menyakiti orang lain berargumentasi dengan perkataan Abu Hurairoh bahwa Nabi saw bersabda,”Hak bagi setiap muslim adalah mandi sehari di setiap tujuh hari dengan mencuci kepala dan badannya.” (HR. Bukhori dan Muslim) mereka menajdikan hadit-hadits didalam bab ini berdasarkan lahiriyahnya serta untuk menjawab orang-orang yang bertentangan dengannya. (Fiqhu as Sunnah juz I hal 69) Dengan demikian mandi di hari jum’at tidaklah berpengaruh pada sah atau tidak shalat jum’atnya. Begitu juga dengan mereka yang berpendapat bahwa mandi di hari jum’at adalah wajib mengatakan bahwa mandi tersebut bukanlah syarat sahnya shalat jum’at karena ia bukan untuk menghilangkan hadats, berdasarkan hadits Ibnu Umar diatas. Bagi orang yang sudah melaksanakan mandi di hari jum’at pada pagi hari kemudian ia berhadats maka cukuplah baginya berwudhu. Al Atsram berkata,”aku mendengar Ahmd pernah ditanya tentang orang yang telah melakukan mandi di hari jum’at kemudian dia berhadats maka apakah cukup baginya berwudhu?” Dia menjawab,”Ya, dan aku tidak mendengar dalam hal ini yang lebih tinggi dari hadits Ibnu Abzaa. Ahmad menunjukkan pada apa yang diriwayatkan oleh Ibnu Syaibah dengan sanad shahih dari Abdurrahman bin Abzaa dari ayahnya dan ia memiliki seorang sahabat bahwa dia mandi di hari jum’at kemudian berhadats lalu berwudhu dan tidak mengulangi mandi hingga berlalunya waktu mandi dengan selesainya shalat jum’at. Barangsiapa yang mandi setelah shalat maka tidaklah ada baginya mandi di hari jum’at orang yang melakukannya (mandi) maka ia tidak dianggap melakukan apa yang diperintahkannya (mandi di hari jum’at) berdasarkan hadits Ibnu Umar bahwa Nabi saw bersabda,”Apabila seorang dari kalian mendatangi shalat jum’at maka mandilah.” (HR. al Jama’ah) Menyentuh Alat Kelamin Setelah Berwudhu Sayyid Sabiq menyebutkan bahwa diantara yang membatalkan wudhu adalah menyentuh kemaluan tanpa penghalang berdasarkan hadits Yusroh binti Shafwan bahwa Nabi saw bersabda,”Barangsiapa yang menyentuh kemaluannya maka janganlah dia melaksanakan shalat hingga berwudhu.” (HR. Imam yang lima dan dishahihkan oleh Tirmidzi. Bukhori mengatakan bahwa hadits ini adalah yang paling shahih didalam bab ini. Imam Malik, Syafi’i, Ahmad dan yang lainnya juga meriwayatkannya. Abu Daud berkata,”Aku mengatakan kepada Ahmad,”Hadits Yusroh tidaklah shahih?” Dia menjawab,”bahkan ia adalah shahih.” Didalam satu riwayat Ahmad dan Nasa’i dari Yusroh bahwa dirinya mendengar Rasulullah saw besabda,”Hendaklah berwudhu orang yang menyentuh kemaluan.” Ini termasuk menyentuh kemaluannya sendiri maupun kemaluan orang lain) Dari Abu Hurairoh baha Nabi saw bersabda,”Barangsiapa yang mengusap kemaluannya dengan tangannya tanpa adanya penghalang maka wajib baginya berwudhu.” (HR. Ahmad, Ibnu Majah, Hakim dan dishahihkan olehnya serta Ibnu Abdil Barr. Ibnu as Sakan mengatakan bahwa hadits ini adalah yang terbaik yang diriwayatkan didalam bab ini.) Didalam lafazh Syafi’i disebutkan,”Jika seorang diantara kalian mengusap kemaluannya dengan tangannya dan tanpa adanya penghalang diantara keduanya maka hendaklah dia berwudhu.” Dari ‘Amr bin Syu’aib dari ayahnya dan kakeknya bahwa siapa saja lelaki yang menyentuh kemaluannya hendaklah berwudhu dan siapa saja wanita yang menyentuh kemaluannya maka hendaklah berwudhu.” (HR, Ahmad. Ibnul Qoyyim mengatakan bahwa al Hazmi mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih) Sementara itu para ulama Hanafi berpendapat bahwa menyentuh kemaluan tidak membatalkan wudhu berdasarkan hadits Thalq bahwa seorang laki-laki bertanya kepada Nabi saw tentang orang yang menyentuh kemaluannya, apakah diharuskan baginya berwudhu?” Nabi saw menjawab,”Tidak, karena ia hanyalah bagian dari anggoa tubuhmu.” (HR. Imam Lima dan dishahihkan oleh Ibnu Hibban. Ibnu al Madiniy mengatakan bahwa hadits ini lebih baik dari hadits Yusroh)—(Fiqh as Sunnah juz I hal 53 – 54) Dengan demikian jumhur ulama berpendapat bahwa menyentuh kemaluan baik kemaluan sendiri maupun orang lain termasuk anak kecil membatalkan wudhu dan diharuskan baginya berwudhu manakala akan melaksanakan shalat. Wallahu A’lam

Assalamu’alaikum Wr.Wb

Selamat Datang di Blog Mirabbani

Kategori

Status YM

Foto Mirabbani

More Photos

Arsip

Lokasi Anda

IP

Pollling

Kalender

April 2014
M T W T F S S
« Jun    
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
282930  
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.